Tampilkan postingan dengan label tugas kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas kuliah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2014

Three Quest of Silogisme

Putrie kusuma Wardhani
                                                                                                            1106002583/Filman A
  1. Bagaimana Sosiologisme memandang perbedaan individu sedangkan manusia adalah produk masyarakat?
Individu memang dibentuk oleh masyarakat, namun seorang individu pun berasal dari keluarga yang  berbeda-beda dengan didikan dan norma yang berbeda-beda serta memiliki pengalaman hidup yang berbeda satu sama lain sehingga individu yang terbentuk pun dapat berbeda-beda.
2. Bagaimana sosiologisme memandang orang yang kreatif atau orang yang menciptakan sesuatu secara orisinil?
Orang tersebut tetap akan dipandang baik karena bagaimanapun tidak menutup kemungkinan apa yang dihasilkan oleh orang tersebut dapat berguna dan memberi kemanfaatan bagi masyarakat.
3. Apakah yang baik menurut sosiologisme beserta alasannya?
Yang  baik menurut sosiologisme adalah individu yang tidak individualis, dapat bergaul dengan baik, melebur, dan membaur dalam masyarakat, mampu bekerjasama dengan masyarakat, serta dapat memberi kemanfaatan bagi masyarakat.

***

Nahh, kalau itu tugas Filman alias Filsafat Manusia pas gue semester 2, sebuah mata kuliah yang juga tidak ada di kurikulum baru 2012.

Tugas Kelompok: Soal Analisis Filman

Panduan Tugas Analisis Film EMAK INGIN NAIK HAJI – MK Etika
Soal 1
Anda diminta untuk mengamati tingkah laku Zein (Reza Rahardian) pemain utama dalam film ini !
Terutama amati bagian adegan berikut ini:
  1. Zein melakukan upaya tindakan pencurian untuk mendapatkan uang demi keperluan keluarga yang mendesak (anaknya yang sakit) dan untuk biaya naik haji emaknya
  2. Zein melarang emak untuk mengambil tabungan naik hajinya untuk biaya berobat anaknya yang sakit  karena ia mengetahui bahwa emak sudah bersusah payah mengumpulkan uang untuk naik haji tersebut
  3. Zein mengambil kupon undian gratis naik haji yang dibuang oleh istri Pak Haji di tempat sampah supermarket.
  4. Zein meminta kembali uang sisa dari biaya pengobatan anaknya ke mantan istrinya yang ternyata uang tersebut dipinjam oleh teman dekat mantan istrinya
  5. Zein yang sangat kecewa dan marah karena merasa uang tabungan emaknya naik haji tidak digunakan sebagaimana mestinya kemudian memukul seseorang di Rumah Sakit  
Apakah perilaku Zein untuk dapat mewujudkan keinginan Emak naik haji dapat dikatakan sebagai tindakan yang etis ? Apakah Zein sendiri sebagai pribadi/individu dapat dikatakan sebagai individu yang baik secara etis ? Jelaskan jawaban anda !
Soal 2
Film Emak Ingin Naik Haji menggambarkan gejala sosial di masyarakat tentang bagaimana pengikut agama berusaha untuk memenuhi kewajiban agama dengan berbagai cara dan motifnya.
Beberapa hal yang dapat diamati antara lain: kesabaran dan keteguhan seorang Emak yang tidak mampu namun terus berusaha untuk menunaikan kewajiban agama yang diyakininya: naik haji; keluarga Pak Haji yang kaya raya yang dapat dengan mudah berulang kali pergi ke tanah suci; salah seorang anak Pak Haji yang akan ikut pergi umroh ke tanah suci hanya jika artis idola ikut serta; seorang Bapak yang akan mengajukan diri dalam Pemilihan Walikota yang merasa sangat perlu mendapatkan gelar Haji demi menarik simpati dan dukungan masyarakat.
Dengan menggunakan berbagai konsep dan teori etika,
Bagaimana anda menjelaskan mengenai kewajiban agama yang melatarbelakangi keragaman tingkah laku para pemeluknya untuk menunaikan kewajiban agamanya tersebut ?
Tugas diketik rapih, dikumpulkan di kelas 2 minggu dari sejak kegiatan nonton film: 25 April 2012.

***
Itu salah satu tugas makul Etika pas gue semester 2 dulu, tapi di kurikulum baru 2012, itu makul udah nggak ada lagi sih.

Sepenggal Kisah dan Makalah - Sesi Antropologi

Mata ajar Individu, Kesehatan, dan Masyarakat a.k.a Inkemas itu dibagi jadi dua jenis, sebelum UTS kami sedikit banyak belajar tentang antropologi dengan dosen X and then setelah UTS dilanjutkan dengan sosiologi dengan dosen Y. Kalau sama Pak X ini mah heuuu santai sekali deh di kelasnya. Kayak ngak ada tegang-tegangnya sama sekali. Berasa terserah mau ngapain aja di kelas, mendengarkan dengan seksama oke, mainan hp juga seakan nggak masalah, tidur juga dibiarkan saja *eh. Pokoknya pas Inkemas bisa dijadiin waktu mengistirahatkan deh jasmani rohani deh. Bapaknya kayak nriman banget gitu mahasiswanya mau ngapain aja. Enak sih, serasa istirahat, tapi nggak enaknya ya itu deh, karena saking santainya dan nyaris nggak ada ketegangan sama sekali jadi bikin ngantuk. Alhasil sering “bungentuwa”, mlebu kuping tengen metu  kuping kiwa doang atau skip materi yang disampaikannya. Pas mau UTS baru kelabakan nggak ngerti apa-apa :s yeah, itu gue sih >,< Ada juga tuh temen saya yang entah gimana pun keadaannya tetap semangat dan memperhatikan penjelasan sang dosen dengan seksama sembari sesekali mengangkat tangan dan bertanya ini dan itu. Sedangkan saya hanya bisa berdecak kagum dalam hati pada ketangguhan itu anak sambil tetap terkantuk-kantuk susah banget konsen >,< ebuset parah bener ye gueeeee.
Di kelas sih emang santai, tapi tugas akhirnya itu yang GAK SANTE. Ini satu-satunya tugas Inkemas sesi antropologi. Tapi sekalinya ada tugas bikin pusing tujuh keliling. Tugas kelompok. Tugas kelompok itu kayak pedang bermata dua *eaak (bener nggak ya ini analoginya –’). Di satu sisi enak bikin beban jadi berkurang karena ditanggung bareng-bareng. Diri sendiri masih buntu, ada pasokan ide dari yang lainnya. Asyik yaa ;p Taaaaaaaaaapi, nggak enaknya ya ribet. Kalau tugas individual mah mau ngerjain kapan aja, mau siang kek, sore kek, pukul 24.00 kek, dini hari atau sejam sebelum jadwal kuliah pun juga bisa. Nah kalau tugas kelompok itu koordinasinya agak ribet. Mau diskusi mesti janjian dulu pukul sekian di mana (H2 depan lift biasanya kalau kelompok gue, wkwk). Belum ngaretnya, nunggu anggota kumpul semua. Apalagi ini kelompoknya gedhe, ada sembilan orang kalau di kelompok gue. Gue salah satu dari yang suka ngaret sih >,< yaampun kayak nggak ada baik-baiknya ya gue. belum lagi kalau si A ada acara ini, si B mau ke sana, si C masih begini. Heuhh. Terus biasanya pas kumpul bagi-bagi tugas doang. Sepengalaman gue sih walaupun tuga kelompok emang akhirnya dikerjain masing-masing individu deh. Cuman si A dapet bagian ini, si B bagian itu, lalalala, entar digabungin terus diedit. Emang susah sih kalau bener-bener kerja bersama. Lebih efisien kerja bersamaan (dengan kerjaan yang berlainan). Nah itu ngerjain bersamaannya kan di rumah dan kosan masing-masing tuh, jadi entar ngumpulinnya e-mail e-mailan deh. Pokoknya kalau di sini teh modem hidup terusss. E-mail udah kayak sms aja. Kebutuhan primer deh kalau udah begini. (di SMA mah dulu mana perlu beginian :s yeah,everything is change here +_+).
Tantang tugasnya, buat gue yang konvergen dan selalu perlu detail, ini tugas instruksinya geje alias nggak jelas banget. Kurang jelas deh kalau bukan nggak jelas. Lupa sih yang lebih spesifiknya, yang jelas diminta buat makalah dan kelompok gue dapet tema kesehatan dan pendidikan. Karena ini antropologi dan gue adalah mahasiswa psikologi, entarannya ya pokoknya dikaitin sama antro dan psiko gitu deh. Dan gue bingung. Blank. Nggak ngerti mesti ngerjain apa. Untung ada temen sekelompok ;p Sisi positif tugas kelompok, kayak yang gue bilang tadi, di saat kita buntu ada pasokan ide dari yang lain. Karena gue bener-bener blank yaudah deh gue iya iya in aja diskusian kelompok (wkwk, sorry Kawan, gue kayak nggak pernah nyumbang ide aje ye >,< nah loh negatif lagi kan gue). Singkat cerita, finally kami memutuskan buat ngangkat free sexsebagai kasus utamanya terus nanti baru free sex dikaitkan sama antropologi (free sex di Indonesia dan di barat, layanan kesehatan di Indonesia dan di barat), psikologi (gimana kondisi psikis para pelaku free sex), kesehatan (dampak free sex buat kesehatan, layanan kesehatan), dan pendidikan (sex edu, hubungan berkembangnya pengetahuan dan teknologi denganfree sexdan canggihnya bidang kesehatan). Gue dapet sistem pendidikan antara Indonesia dan barat. Ngeks. Kayaknya bakal susah nih, batin gue. Dan emang bener. Susah benerrrr cari referensinya. Tapi kelompok gue baik deh terus gua banting setir disuruh nyari yang tentang kaitannya dengan psikologi. Ini gue juga bingung, ternyata susah juga cari referensinya. Tapi mendinglah, ada gambaran. Dan jeng jeng, ini hasil(sekena)nya >,<
================================================================================
———————————————-  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ ————————————————–
================================================================================
Menurut Hurlock (1973, dalam Ulfa 2010), masa remaja awal merupakan masa yang tidak menyenangkan yang dialami seseorang dengan rentang umur belasan yaitu antara tiga belas hingga enam belas tahun, suatu masa transisi di mana terjadi banyak perubahan pada diri seseorang baik secara fisik, psikis, maupun sosial. Perubahan fisik dan kelenjar mengakibatkan bertambahnya ketegangan emosi, sedangkan kondisi baru dan tekanan sosial menngakibatkan meningginya emosi menyebabkan masa remaja juga disebut dengan periode “badai dan tekanan” seperti yang dinyatakan oleh Hurlock (1998, dalam Indih, 2008).
Dikaitkan tentang kegiatan seksual, dengan perkembangan fisik, kelenjar, dan hormon, secara biologis usia remaja sudah siap untuk melakukan berbagai kegiatan seksual yang pada akhirnya mampu menghasilkan keturunan. Akan tetapi dengan kematangan emosi yang belum stabil, tuntutan pendidikan formal, serta budaya setempat membuat orang dengan usia remaja pada umumnya belum menikah atau dengan kata lain belum dapat melakukan berbagai kegiatan seksual yang sebenarnya secara biologis mereka sudah siap untuk melakukannya. Namun dengan kesiapan biologis tersebut, didukung dengan kondisi tertentu seperti tempat yang sepi dapat menyebabkan dilakukannya seks bebas secara serta merta oleh para remaja tanpa perencanaan sebelumnya ataupun membuat remaja terdorong untuk merencanakannya yang akhirnya keduanya berujung pada terjadinya seks bebas.
Mengenai kondisi psikis yang dialami atau dirasakan oleh pelaku seks bebas berbeda-beda antara satu dengan lainnya, tergantung pandangan masing-masing individu terhadap seks bebas dan alasan mereka melakukan seks bebas. Remaja yang melakukan seks bebas karena ancaman dari pacarnya seperti akan diputuskan apabila tidak mau menuruti kehendaknya, juga remaja yang sebenarnya tidak setuju dengan dilakukannya hubungan seks sebelum menikah serta menydari benar akan berbagai konsekuensi yang harus ditanggungnya setelah melakukan hubungan tersebut akan merasa cemas dan tertekan. Rasa cemas dan tertekan ini tentu saja tidak baik bagi kesehatan psikologis mereka. Sedangkan mereka yang setuju dengan dilakukannya hubungan seks sebelum menikah dan remaja yang melakukannya tanpa paksaan dengan landasan suka sama suka akan merasa baik-baik saja dan nyaman melakukannya. Namun tidak sebaik itu karena dampak buruk yang tidak pernah mereka sadari sebelumnya baru akan mereka rasakan setelahnya, seperti gunjingan dari masyarakat atas perubahan fisik dari remaja wanita jika remaja tersebut hamil misalnya.
Selain faktor dari dalam diri remaja itu sendiri, ada pula faktor eksternal yang mempengaruhi perasaan pelaku seks bebas yaitu budaya dan pandangan masyarakat sekitar mengenai seks bebas. Melalui suatu penelitian di sebuah kota di Indonesia ternyata 100% dari responden sebenarnya tidak setuju dengan dilakukannya seks bebas walaupun sebagian pernah pula melakukannya. Namun hal tersebut berarti mereka melakukan seks bebas dengan perasaan yang sesungguhnya tertekan dan penuh kecemasan. Sedangkan pada negara-negara yang masyarakatnya memandang seks bebas merupakan hal yang sudah cukup lazim dilakukan, para remajanya pun akan melakukan seks bebas tersebut dengan tingkat kecemasan yang lebih rendah.
================================================================================
———————————————-  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ ————————————————
================================================================================
Gue sadar sih yang gue emailin itu emang belum maksimal kayak asal bisa ngirimin ke koordinator kelompok gitu deh (hehe, maaf lagi Kawannnnn >,<). Keburu deadline sih (again, procrastinate effect >,<). Yah karena lagi-lagi keburu deadline yaudah deh semua dikumpulin, disatukan, dicetak, dan dikumpilkan. Huaaahhhh, lega banget mamennn XD Berasa hilang satu beban dalam hidup ini ^o^
Tapinyaaaaaaaaaaaaa, ternyata Tuhan belum mengizinkan kami berhepi-hepi ria dulu =,=” ini akan menjadi sesi yang sangat menyedihkan. Seusai UTS Inkemas kami sekelas dipanggil. Jangan pulang dulu. Lalalala~ singkat ceritta lagi pokoknya pas makalah dengan sampul bertuliskan nama-nama anggota kelompok kami (oh iya isi lengkap makalahnya sori sori jek aja nggak gue publish di sini yaa, soalnya kerjaan kelompok sih dan gue balum izin ke mereka), kami buka makalahnya daaaaaaannnn jeng jeng +_+ coretan di mana-mana, di sana sini ada, yang bikin patah hati banget itu di halaman daftar pustakanya, busetdahh huruf X ukuran font 400an kali ya nampang di sono. Sedih banget ==’. Sebenernya udah dari sampulnya ada sekitar empat catatan dari dosen yang kurang menggembirakan sih –’ oh iya, bukan kurang, BANGET. Banget nggak menggembirakannya karena sampailah kita kepada sebuah instruksi: revisi. Total. Ya, TOTAL. haaaahhhhhh, ternyata penderitaan bukannya sudah berakhir tapi baru saja dimulai (kembali) -_____________-’ Buset enak banget itu yang nggak perlu direvisi. Tapi kebanyakan juga disuruh revisi ulang juga sih. Haha alhamdulillah ada temennya ;p Inilah nggak baiknya kalau kita “gagal”, biasanya malah bakalan seneng kalau ada orang lain yang “gagal” juga, ada temen senasibnya gitu jadinya @,@ iya nggak? iya kan? udahlah ngaku aja :s coba kalau kita “berhasil”, kemungkinan bakal ada sedikit banyak kesadaran buat mendoakan atau setidaknya harapan biar temen kita bisa “berhasil” juga :)))
Balik ke makalah, katanya di makalah kami itu malah kebanyakan bahas free sexnya, padahal yang diharapkan kami banyak bahas kesehatan dan pendidikannya kemudian dikaitkan dengan pskologi (juga antropologi tentunya). Okelah fine. Jujur sebenernya gue juga agak pesimis sih sama makalah kami itu. Memang perlu direvisi tampaknya. Gue sama kelompok tetep dapet jatah yang ada kaitannya sama psikologi. Karena gue seasrama sama Arini, gue sama Arini disuruh joinan cari kesehatan dam pendidikan yang berkaitan sama psikologi. Tapi ya kayak yang gue bilang di awal lagi, emang enakan kerja bersamaan (terserah di tempat yang sama atau beda) daripada kerja bersama (dengan topik yang sama). Yaudah akhirnya gue sama Arini bukannya joinan malah bagi tugas. Hahaha. Gue milih yang kesehatan. Dan ini hasilnyaaa >,<
================================================================================
———————————————–  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ ———————————————–
================================================================================
Psikologi Kesehatan
            Di mana ada manusia, psikologi dibutuhkan. Kalimat tersebut kiranya berlebihan. Psikologi dengan tetap sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku dan mental manusia ternyata memang berhubungan dengan berbagai aspek kehidupan yang manusia, termasuk aspek kesehatan. Hal ini diperkuat dengan terbentuknya sebuah divisi baru pada tahun 1978 dari American Psychological Association yaitu Psikologi Kesehatan. Psikologi kesehatan didefinisikan sebagai
“… the aggregate of the specific educational, scientific and professional, contributions of the discipline of psychology to the promotion and maintenance of health, the prevention of illness, the identification of etiologic and diasnotic correlates of health, illness and related dysfunction, and the analysis and improvement of the health care system and health policy formation” (Matarrazo, 1980 dalam Smet, 1994).”
Dari definisi tersebut, dapat diketahui bahwa psikologi kesehatan sebagai salah satu bagian dari ilmu psikologi, ilmu yang mempelajari tingkah laku dan mental manusia akan membahas salah satunya mengenai studi dan kontrol perilaku-perilaku yang berkaitan dengan kesehatan, terutama perilaku yang dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Contohnya membantu orang untuk berhenti merokok dan mencegah obesitas melalui terapi perilaku dan kognitif. Selain itu juga …..
Psikologi kesehatan dipengaruhi oleh berbagai pendekatan seperti pendekatan perilaku, pendekatan kognitif-perilaku, psikofisiologi, klinis, teori sistem umum, sistem keluarga, fenomena eksistensial, dan holistic. Pendekatan perilaku dapat dilakukan melalui classical conditioning Ivan Pavlov  atau instrumental conditioning B. F. Skinner.
            Sedangkan pengaplikasian psikologi kesehatan ini dapat dilakukan dengan terapi, terapi krisis, training gaya hidup, program-program komunitas dan organisasi, edukasi pyblik, aksi politik, dan kesempatan berkarir.
Secara acak dan lebih spesifik, dengan psikologi kesehatan ini dapat dijelaskan berbagai macam hal tentang kesehatan yang berhubungan dengan psikologi seperti manajemen stres, manfaat psikologis dari olahraga, treatment atas obesitas, efek psikoaktif obat-obatan, perawatan kecanduan alkohol, persepsi dan interpretasi gejala-gejala kesakitan, kepuasan konsultasi medis dan dampaknya, perilaku patuh pasien, proses pencarian bantuan ketika sakit, dampak psikologis yang dialami pasien karena opname, serta berbagai promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan atau edukasi. Juga yang berkaitan dengan berbagai macam penyakit seperti dasar psikologi dari darah tinggi, peran psikologi untuk pencegahan penyakit jantung, efek-efek psikologi yang dapat dialami penderita kanker, operasi plastik dan psikologi kesehatan, faktor dan perawatan psikologis penyakit kulit, aspek penanganan psikologis penderita asma, faktor psikologis pada diabetes, dan sebagainya.
Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang berpengaruh emosi, proses berpikir, dan kondisi seseorang. Stres juga merupakan salah satu faktor yang amat mempengaruhi kesehatan manusia dan bahkan dapat menimbulkan kematian. Maka dari itu penderita berbagai penyakit, salah satunyapenyakit  jantung dapat dibantu dengan manajemen stress yang baik. Pernah dilaporkan suatu kejadian menakjubkan yang terjadi pada seorang seorang wanita dengan penyakit diabetes yang parah. Wanita tersebut pernah mengalami dua kali koma diabetes saat mengandung, harus mendapatkan penyuntikan insulin setiap lima belas menit akibat trauma akan kematian saudara laki-lakinya, dan kritis selama beberapa hari. Ketika ia akan melakukan aborsi ia meminta bantuan kepada seorang penghipnotis yang kemudian menghipnotis mentalnya. Penghipnotisan tersebut berfungsi untuk mengatur rasa sakit setelah operasi dilakukan sehingga stress saat pemulihan dapat diminimalisir. Hasilnya sangat mengejutkan karena sesudahnya kadar gula dalam darah pasien baik bahkan ia tidak memerlukan begitu insulin lagi dan selama sebeas bulan ia hanya memerlukan suntik insulin di beberapa waktu saja ketika ia terlalu stress. Hal tersebut menunjukkan bahwa aspek psikologis memang berpengaruh terhadap kesehatan manusia.
Sheridan, C. L., Radmacher, S. A. (1992). Health psychology: Challenging the biomedical model. Canada: Wiley
Smet, Bert. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT  Grasindo
================================================================================
————————————————  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ ———————————————-
================================================================================
alhamdulillah nggak ada feedback lagi. Gile aje kalau suruh ngerevisi lagi +_+” so, ahaha akhirnya selesai sudah urusan kami sama Inkemas antrop.Thanksbanget atas kerjasama dan suka duka selama pengerjaan makalah ini bu koordinator, Flo, dan ceman-ceman sekelompok tercintah, Devika, Yuli, Arini, Dhesta, Caul, anakaceh, dan Sherly ;D
dan eeh ternyata eh ternyata suka duka kami bersembilan nggak cukup sampai di sini, ke depannya ternyata masih ada proyek yang lebih gedhe lagi di Inkemas sesi Sosiologi yang segalanya bagai bertolak belakang, mulai dari dosennya, suasana kelasnya, sampai tugasnya ;D tugasnya aaaa tugasnyaaaa, Eksperimen Garfinkel, aaaaaa tugas teruuuuuuuuuuuuuuunik yang nggak bakalan ditemui di fakultas lain manapun yang bikin ngakak yang bikin mental tertantang yang tak terlupakan deh pokonya. Ini entar si Yuli yang jadi korbannya, eh tokoh utamanya ;p seperti apakah itu semua? cekidot in ma next post ;p

***

Anyway, tulisan ini gue ketik pas gue masih semester 2 (ini gue pindahin doang dari blog gue yang putriekusuma.wordpress.com), pas gue masih belum terbiasa dengan tugas tugas kuliah macam begitu, jadi yaa gitu deh tulisannya, kkk. Kalau sekarang? Ah makin lama tugasnya makin banyak, sampai nggak ada waktu buat menggerutu, hahaha. Oya btw pada kurikulum baru 2012, Inkemas ini sudah tidak ada lagi teman-temannn.

Kamis, 06 Februari 2014

Tugas Akhir Pemahaman Diri: Ceritakan tentang Anda

Kalau gue lihat di blog-blog orang gitu, biasanya kan ada tuh perkenalan tentang si empunya blog. Nah, tapi, berhubung gue lagi nggak banyak waktu buat ngetik ini itu (ngeks, sok sibuk banget >,<), jadi saya sajikan saja deh ini tulisan yang sebenarnya sih dibuat guna memenuhi tugas akhir mata kuliah Pemahaman Diri Semester 1. Buat kalian yang kenal gue di dunia nyata, heeey, saya tak sebaik yang kalian kira loh >,< dan buat lo dan lo pada yang cuma kenal gue lewat dunia maya, haha, selamat Anda telah tertipu :s pukus itu emang Putrie, tapi pukus juga terlampau berbeda sama Putrie. Saya mah terlalu kalem aslinya  >,< Selain itu, yeah #justcekidotsajadeh ~.~


=============================================================
Tugas Akhir Pemahaman Diri
============================================================

Pemdir_Putrie Kusuma Wardhani_1106002583

Ceritakan tentang Anda
Siapa Anda?
             Saya merupakan seorang perempuan yang dilahirkan pada 6 September 1993 di Purworejo, Jwa Tengah. Saya dilahirkan sebagai putri dari pasangan suami istri Buwono, ayah saya, dan Titi Tri Warsyanti, ibu saya. Oleh mereka saya diberi nama Putrie Kusuma Wardhani. Saya seseorang yang menyukai warna maroon, cokelat, keju, ayam panggang, rasa cappucinno, dan agar-agar. Saya benci menyanyi dan lebih senang hati menulis empat belas lembar cerpen dalam dua hari ketimbang harus menyanyi di depan teman sekelas di pelajaran seni musik. Saya merupakan warga Desa Kroyo RT 01 RW 1, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo semenjak kelahiran saya dan terus menjadi warga desa tersebut hingga saya lulus SMA. Kroyo memang bukan desa yang letaknya jauh di pelosok, namun akses transportasi untuk menuju rumah saya cukup sulit, tidak ada angkutan umum yang melewati depan rumah saya, dan saya harus menempuh perjalanan 1,5 km untuk mencapai jalan yang dilalui angkutan umum yang rata-rata hanya beroperasi dari pukul 5.45 hingga pukul 16.00. Saya hingga saat ini belum lancar mengendarai sepeda motor dan selalu mengandalkan angkutan umum atau bantuan tebengan dari teman saya jika hendak bepergian. Sedihnya lagi, ayah saya merupakan orang yang sangat malas dalam hal antar jemput. Ketiga hal tersebut hampir secara mutlak membuat saya tidak pernah keluar desa jika sudah berada di rumah. Saya tidak pernah bermain ke rumah teman-teman sekelas saya yang letaknya berpencar di seluruh penjuru Purworejo. Saya juga tidak pernah ikut teman-teman saya pergi makan atau sekedar jalan-jalan ke suatu tempat. Pokoknya saya hanya bisa menghabiskan waktu liburan saya di desa saya atau dengan kata lain saya hampir tidak pernah pergi bermain. Saya hanya bertemu dan berinteraksi dengan mereka saat KBM di sekolah, saat les, saat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, atau saat mengerjakan tugas kelompok atau tugas kelas. Hal ini membuat saya tidak begitu akrab dengan teman-teman sekelas saya dan karenanya saya pun terbiasa hidup tidak bergantung pada teman. Jika saya butuh sesuatu, saya biasanya pergi ke toko atau kemana pun sendiri dan seringkali justru kurang nyaman jika di jalan kebetulan bertemu dengan seorang teman dan pergi bersamanya. Tidak masalah bagi saya untuk pergi ke toilet, ke kantin, ke mushola, ke perpustakaan seorang diri. Saya tidak pernah curhat pada teman-teman saya. Saya pun tek pernah dicurhati oleh mereka. Saya pun terbiasa mengatasi masalah sendiri tanpa minta bantuan teman. Mungkin kebiasaan-kebiasaan tersebut yang membuat saya menjadi orang introvert yang ekstrim. Saya juga pendiam, sangat “kalem”, cenderung pasif, tidak mudah bergaul, kurang supel, dan kurang pandai berkomunikasi secara verbal. Namun demikian, kemampuan menulis saya cukup baik. Semua itu membuat begitu bahagia ketika saya mengenal sebuah aplikasi chatting bernama mXit. mXit bagaikan oase di padang pasir bagi saya. Melalui mXit saya bagaikan bisa mewujudkan impian saya untuk bisa menjadi orang yang cerewet dan ceplas-ceplos (walaupun hanya melalui ketikan), bebas berekspresi (walaupun hanya melalui emoticon), orang yang rame, seru, menyenangkan, supel, dan saya pun memiliki sangat banyak teman dan kenalan di sana. Saya bahkan bisa betah berkutat di depan hp enam belas jam dalam sehari karenanya. mXit membuat hidup saya menjadi penuh warna dan menyenangkan namun juga membuat saya menjadi semakin introvert dan tampak tidak normal. Bahkan saya pernah dihujat ayah saya bahwa saya perlu dibawa ke psikiater sebelum menjadi psikolog saat kemarahan beliau sudah memuncak melihat saya sama sekali tidak pernah bermain dan berinteraksi dengan teman-teman sebaya saya di desa dan hanya mengurung diri di kamar berkutat di depan hp selama liburan. Hingga sekarang pun saya masih lebih senang berselancar di dunia maya daripada nonton film bareng bersama teman asrama sekalipun. Saya juga lebih suka menghabiskan liburan di dalam kamar asrama bertemankan teman-teman dunia maya saya ketimbang ngobrol bareng beramai-ramai yang diliputi canda tawa di kamar sebelah. Saya pun menjadi tidak akrab dengan teman-teman asrama saya sekarang. Seperti dengan teman-teman sekolah saya dahulu, interaksi saya dengan teman-teman asrama maupun teman kuliah paling-paling hanya sebatas senyum dan “say hello” saja. Saya pun menjadi seorang yang sangat kurang dikenal di lingkungan kampus. Nilai-nilai kuliah saya pun masih banyak yang kurang memuaskan karena asyiknya chatting dengan teman mXit membuat saya malas belajar.
            Selain introvert, saya pun juga seorang feeler yang ekstrim. Sangat sulit bagi saya untuk menolak permintaan dan usulan teman. Saya selalu khawatir jika saya menyakiti hati orang lain atau membuat teman saya tidak bahagia. Saya lebih bahagia ketika saya harus mengorbankan sedikit kebahagiaan atau apapun yang saya miliki asalkan teman saya kiranya bisa bahagia karenanya. Bahkan sering saya berpikir untuk sedikit menjauh dari teman terdekat saya dan membiarkannya dekat dengan teman saya yang lain karena khawatir ia kurang bahagia jika harus selalu bersama saya. Namun sekarang saya bahagia karena walaupun saya tidak banyak akrab dengan teman kampus, kini saya memiliki seorang teman akrab yang dia pun juga feeler dan membuat kita justru cocok dan sering saling curhat dan tertawa atas kefeeleran kami. Saya juga merupakan seorang perceiver dan belakangan ini sangat gemar menunda-nunda sesuatu.
            Saya hidup dengan mendapat pengaruh yang besar dari ayah dan ibu saya. Saya memang merupakan seseorang yang memiliki puluhan kebiasaan buruk mulai dari tidak mandiri, pemalu, pendiam, tidak supel, tidak disiplin, plin-plan, suka menunda-nunda sesuatu, hingga mengulang kesalahan yang sama. Namun demikian saya merupakan orang yang jujur, anti nyontek, dan sangat patuh aturan lantaran ayah saya saja dikenal sebagai guru sekaligus wakil kepala humas SMP saya yang sangat tegas dan tidak segan-segan menindak siswa yang menyontek, ramai saat upacara, ataupun melanggar aturan-aturan sekolah lainnya. Saya selalu merasa membawa nama ayah saya sehingga saya selalu berhati-hati dalam bertindak dan tidak banyak tingkah. Saya yang cukup memiliki keinginan berprestasi yang tinggi dan kini bisa diterima di UI pun karena dukungan ayah saya yang cerdas dan sangat peduli dengan prestasi akademik. Saya pun seseorang yang cukup relijius, sopan, dan anti berbicara kasar dan ini pun karena ibu saya juga demikian dan mengajarkan saya demikian.

Bagaimana anda membuat pencitraan tentang diri anda?
à Bagaimana Anda menampilkan diri pada orang lain
Dalam kehidupan sehari-hari, di luar rumah, saya selalu berusaha menampilkan diriku sebagai sosok yang baik, siswa yang baik, teman sekelas yang baik, tetangga yang baik, warga negara yang baik, hamba yang baik, kecuali satu, saya tidak menampakkan diri sebagai seseorang anak perempuan (daughter) yang baik terutama di mata tetangga-tetanggsaya. Ya, saya menampilkan diriku sebagai siswa yang baik. Saya sangat patuh pada peraturan sekolah. Saya memakai seragam sesuai ketentuan. Saya tetap memakai kaus kaki tak kurang dari sepuluh cm meskipun jika saya memakai kaus kaki lima cm pun tidak akan ketahuan karena saya berjilbab dan rok saya panjang. Saya pun tetap memakai baju dengan atribut yang lengkap seperti badge dan pangkat bahu walaupun itu juga tak akan terlihat dari luar lantaran tertutup jilbab dan tidak akan ketahuan jika tidak memakainya. Saya tidak pernah membawa handphone ke sekolah meskipun banyak dari teman sekolahku yang melanggar larangan membawa handphone ke sekolah dan hal itu seringkali membuatku sangat sangat sangat cemas serta kebingungan ketika karena praktikum, tugas kelompok, atau tuntutan lain saya harus pulang terlalu sore dan kehabisan angkutan umum. Seumur hidupku saya tidak pernah membolos atau kabur dari sekolah saat jam KBM. Saya tidak pernah mencontek maupun meminta jawaban dari teman saat ulangan sekalipun banyak dari teman saya yang kadang melsayakannya saat SMA dulu. Saya membayar SPP tepat waktu. Sederhananya, saya tidak pernah dipanggil oleh guru BK karena hal yang negatif. Nilai-nilai akademis dan peringkatku di kelas juga tidak buruk dan masih selalu tergolong di atas rata-rata. Saya juga menampilkan diriku sebagai teman sekelas yang baik. Saya seseorang yang tidak pernah membuat masalah atau bermusuhan dengan teman-temanku. Saya seseorang yang tidak pernah berbuat curang pada mereka. Saya ramah dan mudah dimintai pertolongan. Saya juga penyabar, tidak mudah marah, dan mudah memaafkan kesalahan teman. Saya tidak pernah berkata kasar dan selalu berusaha agar tidak menyakiti teman. Saya anggota kelompok yang cukup baik yang tidak hanya “urun nama”. Di depan teman sekelas saya juga menampakkan diri sebagai anak yang rajin piket kelas dan mau banyak bekerja untuk kebersihan kelas. Saya pun menampilkan diriku sebagai tetangga yang baik. Saya ramah dan berlsaya hormat pada setiap tetangga yang lebih tua. Saya menerapkan ilmu yang kupunya dari pelajaran tata karma dan unggah-ungguh basa jawa yang pernah kupelajari. Saya akan membungkuk ketika lewat di depan orang yang lebih tua, ngapurancang pada kondisi yang diperlukan, tersenyum dan menyapa mereka ketika berpapasan atau melewati depan rumah mereka sedangkan mereka sedang berada di depan rumah mereka. Saya tidak pernah membuat onar atau mencemarkan nama baik desa. Saya menampilkan diriku sebagai warga negara yang baik. Saya taat pada hukum, peraturan, dan Undang-Undang. Saya akan menolak tawaran temanku untuk pulang bersama dengan motornya dan memilih naik angkutan umum yang akan memakan cukup banyak biaya dan waktuku karena jika saya tidak menolaknya saya akan naik motor tanpa helm. Yah, kecuali dalam kondisi yang sangat terdesak seperti terlalu malam dan sudah tidak ada angkutan umum yang beroperasi. Saya menyeberang di zebracross dan mengingatkan temanku untuk berhenti ketika lampu merah. Saya menampilkan diriku sebagai hamba-Nya yang baik. Saya akan mengingatkan dan mengajak temanku untuk sholat di sela-sela kesibukan mengerjakan tugas kelompok atau saat berekreasi yang membuat kita sering tepat waktu. Saya turut meramaikan mushola di SMSaya dulu pada waktu dhuha sebelum tes atau saat istirahat. Saya tidak pacaran. Di lingkungan kelas, saya tampil sebagai pemrakarsa budaya bersalaman sambil mengucap “assalamu’alaikum” ketika bertemu, namun saya tidak akan menyalami teman yang laki-laki meskipun semua teman perempuan yang ada di samping kanan kirinya saya salami.  Saya bergabung dalam rohani Islam saat SMA, mendaftar FUSI di Fsayaltas Psikologi UI, dan magang di Salam UI yang sedikit banyak membuat telah perilsayaku lebih tepat sesuai dengan aturan-Nya. Namun saya belum dapat menampakkan diri sebagai seseorang anak perempuan (daughter) yang baik terutama di mata tetangga-tetanggsaya. Rasa malasku terlalu besar dan membuatku seringkali “membiarkan” tetanggsaya mendengar kemarahan ayah ibuku lantaran saya enggan dan tidak becus melsayakan berbagai pekerjaan wajar seorang anak perempuan seperti menyapu, mengepel, mencuci, dsb. Saya juga sering membiarkan tetangga-tetanggsaya melihat fenomena yang sangat tidak lazim, ayahku menyapu halaman sedangkan saya malah menonton televisi di dalam rumah.
Selain itu semua, saya juga menampilkan diriku sebagai orang yang tidak memiliki masalah apapun. Saya selalu murah senyum, tidak pernah marah, dan jarang bad mood. Saya juga menampilkan diri sebagai anak yang kalem, tidak caper, tidak banyak tingkah, tidak banyak bicara, tidak pernah teriak-teriak, tidak pernah narsis, tidak alay, tidak mudah histeris, tidak pernah tergila-gila pada seseorang atau sesuatu, tidak suka membicarakan cowok. Walaupun begitu saya selalu berusaha menampakkan diri sebagai orang yang terbuka dan cukup rame ketika berkenalan dengan teman baru. Oh ya, saya juga menampilkan diri sebagai orang yang rapi dan memiliki selera yang cukup baik dalam berpenampilan. Dan akhir-akhir ini saya secara terang-terangan sering menampakkan diri sebagai orang yang sangat gemar menunda-nunda pekerjaan, terutama tugas kuliah.

Seberapa jauh “gap” antara diri anda sendiri dan pandangan orang lain?
Teman-teman(SMA)ku banyak yang menilai bahwa saya orang yang sangat baik seakan tanpa dosa. Bahkan ada yang menganggapku si almost perfect. Padahal bagiku saya merupakan seseorang yang penuh kekurangan dan masih amat dan teramat banyak dari sifat-sifat burukku yang perlu diperbaiki mulai dari saya yang kurang disiplin, suka menunda-nunda pekerjaan, kurang bertanggungjawab, tidak mandiri, suka mengulang kesalahan yang sama, pemalas, pensayat, pemalu, terlalu introvert, terlalu feeler, terlalu submisif, tidak memiliki jiwa pemimpin, kurang kreatif, hingga tidak memiliki semangat juang yang tinggi. Di luar rumah mungkin saya memang tampil sebagai sosok yang baik karena entah mengapa saya seakan memiliki kepribadian yang berbeda, ketika saya sudah keluar rumah dan bertemu dengan orang lain selain keluarga yang tinggal serumah denganku, saya yang sebenarnya sedang sangat marah dengan seseorang dan adikku pun sering pula terkena getahnya, namun ketika bertemu seseorang yang notabene dia bukan keluarga yang tinggal serumah denganku itu, spontan saja kemarahanku hilang dan saya masih bisa juga tersenyum padanya seakan ia tak punya salah apapun padsaya. Di luar rumah seakan saya memang seperti orang berjiwa malaikat yang tidak pernah marah, mau saja disuruh ini itu, “nriman”, dsb. Namun mereka tidak tahu betapa buruknya saya sebagai anak perempuan dari kedua orang tusaya. Sifat pemalasku yang terlampau amat dan sangat tinggi serta ketidakmampuanku mengerjakan pekerjaan ini itu di rumah membuat ayah ibuku harus marah-marah berpuluh-puluh kali untuk hal yang sama maupun berbada setiap harinya. Mengingat saya dengan segala perilsayaku dalam rumah yang telah terlampau sering membuat orang tusaya jengkel dan bersedih hati, saya sering cemas karena merasa memiliki sangat banyak dosa jauh lebih banyak dari temanku yang paling sering membuat onar dan jarang sholat lima kali sehari sekalipun.
Dan saya pun sangat heran pada teman-temanku menganggap saya anak yang rajin (dalam mengerjakan tugas sekolah). Saya memang sama sekali tidak pernah menyontek saat ulangan atau ujian bagaimanapun kondisinya, namun berusaha berangkat awal agar dapat bersama-sama dengan teman yang lain menyalin jawaban PR dari teman dekatku yang memang benar-benar rajin sudah menjadi kebiasaan sehari-hariku lantaran saya lupa, memang tidak mampu, atau terlalu malas untuk mengerjakan PR itu di rumah. Mereka juga masih saja menganggapku pandai dan ada pula yang pernah memanggilku dengan julukan “cah pinter”. Peringkatku di SMA dulu memang cukup baik namun tidak jarang pula saya mendapat nilai yang mengkhawatirkan, tak kunjung paham terhadap suatu materi di kala teman yang lain dengan cepat memahaminya, bahkan pernah harus mengulang dua kali karena nilai remidialku yang pertama masih belum mencapai batas tuntas. Bahkan yang amat membuatku syok, pada try out UN yang pertama saya tidak lulus lantaran nilai matematiksaya hanya tiga koma dan untuk pelajaran matematika dulu saya dimasukkan dalam kelas kategori bawah yang perlu mendapat bimbingan tambahan khusus selama beberapa waktu. Apalagi setelah melihat nilai Psiumku yang sangat mengkhawatirkan dan kompetitor-kompetitorku baruku di Fsayaltas Psikologi UI ini yang begitu menakjubkan membuatku merasa sangat payah.
Di masa kuliah ini saya tinggal di asrama yang membuat teman-temanku, terutama yang kamarnya berdekatan denganku mengetahui lebih banyak tentang sifat asliku, terutama sifatku yang sering menunda-nunda pekerjaan, terutama tugas kuliah. Namun anehnya mereka justru memandangku sebagai orang yang hebat, dapat mengerjakan dalam waktu singkat namun hasilnya tetap cukup baik dan orang yang easy going. Padahal sesungguhnya saya merupakan orang yang sangat mudah panis, cemas, dan saya pun mengalami stres yang luar biasa selama waktu penundaan tersebut.
Justru sesuatu yang saya anggap sebagai kelebihanku tampaknya tidak pernah mereka sadari sebagai kelebihanku. Mereka terlanjur menjudgeku sebagai anak yang terlampau kalem dan pendiam. Bahkan ada yang mengatakan bahwa saya adalah anak paling pendiam di kelas. Saya memang pendiam, namun saya bisa menempatkan sifat pendiamku ini pada tempatnya. Saat saya harus “bicara”, saya akan “bicara”, berani “bicara”, dan mampu “bicara” dengan baik. Saya memang pendiam namun dapat berbicara dengan lantang dan meyakinkan saat berpidato. Saya pendiam namun dapat tampil lebih percaya diri saat presentasi dibandingkan anak yang cerewet dalam kesehariannya. Saya juga tidak bermasalah dengan demam panggung dan tetap mampu mendapat nilai terbaik dalam cipta dan baca puisi pada pelajaran Bahasa Indonesia saat saya duduk di kelas dua belas setahun silam. Sayang mereka tidak begitu dapat melihat potensiku ini dan ketika ada aktivitas bermain peran misalnya, mereka hanya akan memberiku tugas menyanyikan suatu lagu bersama teman lain yang kurang terpilih di belakang layar. Padahal saya justru sangat tidak berkompeten dalam hal nyanyi menyanyi dan saya bisa berperforma lebih baik jika saya menjadi salah satu pemainnya dan bahkan mungkin bisa lebih baik dari pemain yang mereka tunjuk.

Jika anda dapat kembali ke masa lalu, hal apa yang paling ingin anda ubah dari diri sendiri, dan mengapa?
            Jika saya dapat kembali ke masa lalu, saya ingin menjadi anak yang pemberani, tidak pemalu, dan aktif sedari kecil karena seperti apa yang saya sadari sekarang, karena saat SD saya sudah terlanjur menampakkan diri dan dikenal sebagai anak yang kalem, pemalu, dan pendiam, maka sifat itu seakan harus saya bawa hingga saya SMP maupun SMA karena teman SMA sebagian besar merupakan teman SMP juga dan teman SMP pun sebagian merupakan teman SD saya yang sudah terlanjur mengecap saya sebagai pribadi yang demikian dan akan terlihat aneh di mata teman-teman saya jika saya tiba-tiba menjadi cerewet dan aktif. Bisa jadi akan terjadi kegemparan di antara teman-teman saya pula karenanya. Selain itu memang sulit bagi saya melsayakan perubahan sifat 180 derajat ketika saya sudah besar dan telah belasan tahun menjalani kehidupan dengan sifat-sifat tersebut. Di samping itu, sifat saya yang pemalu, terlalu kalem, dan cenderung pasif ini membuat saya tidak pernah sekalipun ditunjuk oleh guru saya untuk menjadi petugas upacara saat SD dulu. Padahal menurut saya jika hanya membaca pembukaan UUD 1945 saya bisa lebih baik dari mereka yang ditunjuk. Saat SMP pun hal ini berlanjut dengan tidak pernahnya saya ditunjuk menjadi salah satu kandidat asisten pramuka atau pengurus OSIS. Bayangkan, diberi kesempatan untuk menjadi kandidat saja tidak pernah. Begitu pula saat SMA. Dan tidak pernahnya saya menjadi pengurus OSIS saat bersekolah dulu sangat berdampak sangat buruk bagi kehidupan non akademis saya di kampus ini. Ketika perihal kesempatan sudah tidak menjadi masalah lagi karena di dunia kampus ini sistemnya open recruitment bukannya ditunjuk dan ditentukan (secara sepihak) oleh guru atau senior sepaerti saat saya duduk di SD, SMP, dan SMP dulu, lagi-lagi saya tidak dapat ikut aktif dalam organisasi semacam OSIS, yaitu BEM dengan sebab yang berbeda namun masih berkaitan dengan apa yang terjadi pada diri saya di masa lampau. Saya merasa kurang percaya diri  karena merasa tidak memiliki bekal yang cukup seputar dunia organisasi dan merasa teman saya lebih berkompeten. Itu menyebabkan saya ragu mendaftar dan akhirnya tidak ikut PDKM dan berbagai open recruitment kepanitiaan berbagai kegiatan yang dibuka untuk siapapun di Fsayaltas Psikologi ini.

Bagaimana anda memandang masa depan anda?
Saya memang belum begitu memiliki gambaran dan target yang jelas seperti ingin menjadi apa saya nantinya di masa depan saya kelak. Namun saya yakin dengan diterimanya saya di Universitas Indonesia ini setidaknya akan membuka peluang yang lebih besar bagi saya untuk dapat mencapai masa depan yang cerah. Sebagai seorang perceiver, saya sudah terbiasa menjalani hidup ini mengalir begitu saja. Namun biasanya ketika saya telah mancapai suatu waktu di mana saya harus bisa melsayakan, memutuskan, atau menjadi sesuatu, saya mampu melsayakan, memutuskan, dan menjadi sesuatu tersebut. Seperti yang terjadi saat kenaikan dari kelas sebelas ke kelas dua belas misalnya. Saat itu saya cukup cemas juga melihat kenyataan teman-teman saya sudah bercita-cita ingin masuk PTN dan jurusan ini dan itu, sudah mulai meminjam buku ini dan itu, dan sudah berencana ingin mengikuti bimbingan ini dan itu untuk persiapan SNMPTN sedangkan saya jangankan meminjam buku atau les, saya ingin melanjutkan kuliah di jurusan apa saja saya masih blank. Namun alhamdulillah saat mendekati waktu pengisian form SNMPTN undangan saya mulai mengetahui dan dapat memutuskan banyak hal hingga saya dapat diterima di Universitas Indonesia ini. Dan saya yakin dengan usaha dan doa hal itu akan kembali terjadi lagi pada diri saya untuk masalah ini. Saya juga akan berbaik sangka akan masa depan saya karena saya yakin dengan berpikir demikian masa depan saya akan baik pula karena (saya juga yakin) bahwa Allah akan mengikuti apa yang dipikirkan oleh hamba-Nya.
Namun demikian, untuk sementara ini, setelah wisuda S1 saya akan langsung melanjutkan S2 seperti saran ibu saya. Setelah itu nantinya mungkin saya akan mencoba membuka klinik sebagai psikolog. Ketika tabungan sudah mencukupi, untuk menambah penghasilan saya akan membangun atau membeli rumah dan menyewakan tempat kos serta membuka usaha fotokopi yang letaknya di dekat suatu instansi pendidikan.

(1) Langkah perubahan seperti apa yang bisa anda buat?
Langkah-langkah perubahan yang dapat saya buat yaitu mulai dari mencoba merenungkan kembali akan nasib masa depan saya dengan browsing mengenai profil alumni, perusahaan-perusahaan yang banyak mempekerjakan alumni  Fsayaltas Psikologi UI, dan menggali lebih dalam tentang prospek kerja lulusan psikologi, kemudian menentukan target, langkah-langkah pencapaiannya, dan berusaha mencapainya. Selain itu mulai mengurangi intensitas online dan memberlsayakan kembali aturan yang pernah saya buat sendiri saat saya SMA dulu, online mXit pada hari libur saja, meluangkan waktu untuk belajar setiap harinya, sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaan prokrastinasi, mulai lebih banyak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, mulai mencoba ikut serta dalam suatu kepanitiaan, mengurangi rasa malas untuk mencari informasi tentang berbagai beasiswa dan lomba, mencoba mengikuti lomba terutama lomba menulis, mengikuti lebih banyak seminar maupun kuliah umum, dan mulai lebih aktif di FUSI atau Salam UI.
(2) Rencanakan apa yang akan Anda lsayakan selama tiga tahun ke depan yang mendekatkan anda pada masa depan idaman anda? Tuliskan dalam tugas akhir bagaimana rencana Anda dan batasan-batasan waktu dimana Anda mengevaluasi capaian rencana tersebut
ü  Rencana    : Memperbaiki nilai Psium (nilai rata-rata Psium 2 minimal 85)
Waktu        : satu semester (semester 2)
Langkah     :
1.         Meminjam buku-buku Psium 2 dari kakak senior sepaguyuban (Mbak Diva, Mbak Sri, Mbak Sella, atau Mbak Pradita) sebelum pulang kampung (3 Januari 2012)
2.         Membawa buku-buku Psium 2 ke Purworejo
3.         Meluangkan waktu untuk mulai membaca buku-buku Psium 2 saat liburan di Purworejo
4.         Tidur dengan cukup di hari sebelum ada jadwal Psium dan mencatat agar tidak mengantuk saat diberi penjelasan di dalam kelas
5.         Memperhatikan dengan seksama penjelasan dari dosen
6.         Mengulang kembali apa yang telah dijelaskan sesampainya di asrama
7.         Belajar jauh-jauh hari sebelum kuis, UTS, ataupun UAS
Evaluasi     : dilaksanakan setelah nilai setiap kuis, UTS, dan UAS keluar dan di akhir semester

ü  Rencana    : Mendapatkan predikat cumlaude saat wisuda
Waktu        : tujuh semester (semester2-semester8)
Langkah     :
1.      Mengurangi intensitas online mXit (hanya online saat libur saja)
2.      Tidur cukup (tidak kurang dari empat jam) tiap harinya
3.      Memperhatikan dengan seksama penjelasan dari dosen
4.      Mengulang kembali apa yang telah dijelaskan sesampainya di asrama
5.      Belajar jauh-jauh hari sebelum kuis, UTS, ataupun UAS
6.      Mengurangi prokrastinasi agar dapat mengerjakan tugas kuliah dengan waktu yang lebih banyak dan maksimal
7.      Meminjam buku-buku untuk semester selanjutnya dari kakak senior sepaguyuban (Mbak Diva, Mbak Sri, Mbak Sella, atau Mbak Pradita) setiap sebelum pulang kampung
8.      Membawa buku-buku tersebut ke Purworejo
9.      Meluangkan waktu untuk mulai membaca buku-buku tersebut saat liburan di Purworejo
10.  Lebih rajin berdoa untuk kesuksesan kuliah
Evaluasi     : dilaksanakan setiap semester setelah IPK keluar dan di akhir semester 8

ü  Rencana    : Memperbanyak link dan kenalan
ü  Waktu        : tujuh semester (semester2-semester8)
ü  Langkah     :
1.   Mengurangi waktu menyendiridi lepan laptop di dalam kamar
2.   Lebih sering berkunjung dan bersilaturahmi ke kamar teman
3.   Ikut nimbrung jika teman-teman kamar sebelah pada kumpul-kumpul
4.   Lebih aktif dalam paguyuban
5.   Berusaha aktif di FUSI dan Salam UI
6.   Mencoba ikut serta jika ada open recruitment berbagai kegiatan
7.   Tetap bertahan mengikuti UKM Psim-C dan Sinetra
Evaluasi     : dilaksanakan setiap bulannya

ü  Rencana    : Memperbanyak CV
Waktu        : Lima semester (semester2-semester6)
Langkah     :
1.      Memperbanyak magang
2.      Mencari info tentang berbagai lomba (browsing, baca-baca pamflet papan pengumuman)
3.      Mulai mengikuti berbagai lomba yang memungkinkan
4.      Memberanikan diri untuk mendaftar dalam berbagai open recruitment kepanitiaan suatu kegiatan
5.      Berusaha aktif di FUSI, Salam UI, Psim-C, dan Sinetra atau salah satunya yang paling memungkinkan
Evaluasi     : dilaksanakan setiap bulannya


============================================================

dan yeah, itu sekilas (atau berkilas-kilas ya?) tentang gue.
Tentang tulisan itu sendiri, tulisan itu merupakan sebuah tulisan yang udah gue tulis tahun lalu, tanggal 31 Desember 2011. Iya, gue selesaikan sekitar lima belas menit sebelum tahun baru. Kenapa bisa begitu? SOALNYA DEADLINE PENGUMPULAN TUGASNYA SEBELUM TAHUN BARU ALIAS PUKUL 23.59 WIB 31 DESEMBER 2011. Dan gue baru nyelesaiin itu tulisan empat belasan menit sebelum deadline, padahal kemarin-kemarinnya gue free alias libur. >,< LOL bener kan? Dan gue inget banget abis itu pas gue ngonekin ke internet mau nge-email-in itu tulisan ke email dosen gue, oh my Allah, modem gue nggak
mau diajak kompromi, nggak connect connect, man. Panik se panik panik nya deh kala itu >,< Waktu tinggal beberapa menit buka http://www.yahoo.com/ saja masyaAllah lamanyaaaa rek. Mau ke warnet jelas udah tutup lah yaa warnet asrama jam segitu mah. Lagian jam malam asrama kan jam 23.00 WIB --'. Satu-satunya harapan yaa "menyatroni kamar temen". Tapi emang jam segitu masih pada standby di depan lepi? Masih belum tidur? Atau kalau masih melek beberapa kan pada keluar malam baruan. HAH, dan OH YA GARA-GARA KEBIASAAN BURUK GUE YANG SELALU MENUNDA-NUNDA PEKERJAAN ITU GUE JADI NGEBATALIN RENCANA GUE TAHUN BARUAN DI KUTEK BARENG TEMEN-TEMEN KOMPOR. Aishh, katanya pada bakar-bakaran ikan segala pulak -_-'' loh kok jadi ngelantur sampai ikan? :s oke, back to the ini tugas. Eh iya tapi yang tadi itu intinya di saat temen-temen gue pada asyik bakar-bakaran ikan bersukacita taun baruan, gw cuma pasrah terpaksa berkutat di depan lepi diburu waktu. Pas tulisan udah kelar eeh bingung gimana ngirimnya gara-gara jaringan yang tak bersahabat. Tapi heeey Allah memang Maha Penolong :') Habis pasrah berdoa gue berikhtiar dengan ngetok kamarnya si Saria daaan jeng jeng, subhanallahi walhamdulillahi walaa ilahaillallahuallahuakbar, dia masih melek, pas banget lagi online, gue bisa langsung buka yahoo dengan serta merta, tentunya setelah dengan nggak enak hati izin mau ngerusuhin bentar. Dan yippy, kayaknya itu email berhasil gue kirim sekitar pukul 23.57an. AHAHA >,<. Thanks Saria :* Terimakasih yaa Rabb. Dan keberhasilan gue ngirim tugas tepat waktu itu disambut dengan nggiingg jeder jeder, letusan kembang api yang semakin intensif dan tak henti-hentinya :'D Habis itu keluar kamar nonton kembang api dari lantai tiga asrama bareng anak-anak yang nggak caw ke luar dan kegoda nonton juga. Eeeh, dan jujur gue takjub sama kembang apinya. Banyak beneeerrr, kayak nggak ada habisnya. Wkwk di Kroyo (desa gue) teh nggak ada yang beginian >,< Di sana mah gue inget benget dulu ada tetangga gue yang cukup berada nyalain satu, catat ya, SATU aja kembang api beginian udah bisa bikin gempar "satu kampung". Dan gue adalah salah satu orang kampung yang ikut gempar hebring pingin liat itu +_+ oh my. Makanya gue seneeeng banget pas tau keterima di ini universitas. Gue jadi bisa berkesempatan tinggal di tempat yang "lebih dekat dengan peradaban" ini dan bisa melihat, merasakan, dan melakukan berbagai hal yang nggak bisa gue lihat, gue rasakan, ataupun gue lakukan di desa sana. :') loh kokjadi curcol? >,<

Balik ke itu tugas, berhubung gue ngerjainnya keburu-buru, pas gue baca lagi barusan gue baru sadar kalau banyak kata-kata aneh tercantum di sono. Fsayaltas Psikologi? hah, apaan itu fsayaltas? >,< yaampun gue baru inget kalo pas itu gue bingung mau pakai kata ganti "saya" atau "aku". Tadinya sih gue mau pakai aku aja biar bisa lebih enak, santai, dan mendalami ceritanya. Tapi pas di akhirnya gw jadi mikir-mikir kayaknya lebih pas pakai "saya" aja. Kan entar yang bakalan baca tulisan gue itu seorang dosen yak. Karena sisa waktu nggak memungkinkan buat ngeganti satu satu, yaudah gw manfaatin kecanggihan teknologi dongs: FIND and REPLACE - REPLACE ALL. Eeh tapi namanya mesin mah yaa, beda sama manusia. Masak fakultas akunya diganti juga jadi fsayaltas --'. Baru sadar juga gue kalau bahasanya jadi aneh, kadang ada ketikan saya tapi ada juga ketikan -ku nya --'.
Yah sebuah pelajaran berharga deh: Jangan suka mengerjakan tugas mepet-mepet deadline. >,<

Balik ke itu tulisan.
Tulisan itu memang sebenarnya ditujukan buat memenuhi tugas, jadi yaaah gitu deh :s untuk bagian terakhir itu, oh no no no jujur aja kenyataannya ternyata banyaaak bener yang nggak kesampaian :s Sekarang ini (28-5-2012) gue lagi nulis ini kata-kata sambil meng-on-kan pidgin alias online mXit >,< Kedua, gue malah memutuskan keluar dari Psim-C (sebuah keputusan yang sekarang cukup gue sesali) dan tidak jadi mendaftar menjadi salah satu pengurus Salam (sebuah keputusan yang jauhjauh jauuh gue sesali lagi). Sinetranya malah nggak ada kabarnya blas. Eh tapi gue beneran daftar FUSI Psikologi UI kok ;) Yang terpenting, walaupun demikian itu, itu adalah tugas yang gue garap dengan sepenuh hati walaupun tergesa-gesa. Bukan cuap-cuap belaka asal bisa ngumpulin tugas. That's the truly of me, baik dan buruknya. :')

Jumat, 04 Mei 2012

LTM (Lembar Tugas Mahasiswa) MPKT A

Ada banyak kosakata baru yang tidak pernah saya kenal sebelumnya saat di SMA dan baru saya kenal sejak menjadi bagian dari dunia kampus ini. Salah satunya yaitu something called Lembar Tugas Mahasiswa alias LTM yang merupakan bagian dari proses pembelajaran berbasis CL (Collaborative Learning) maupun PBL (Problem-Based Learning). Karena mata kuliah MPKT A merupakan salah satu mata kuliah yang menjadikan CL dan PBL sebagai metode pembelajaran utamanya, jadilah LTM makanan familiar bagi kami.

=========================================================
---------------------  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ -------------------
=========================================================

Mencintai Kegiatan Belajar
Putrie Kusuma Wardhani, 1106002583

Judul: “ Belajar dari Alam”
Pengarang: M. Ais Luthfi
Data Publikasi: images.ulesulaesih.multiply.multiplycontent.com

Cinta merupakan sebuah kata yang telah sering kita dengar. Dan pasti sebagian dari kita telah mengetahui bagaimana cinta itu, bagaimana perilaku seseorang yang mencintai seseorang lainnya. Pastilah ia akan sering memikirkan dan ingin selalu berjumpa dengan seseorang tadi. Dan ketika seseorang mencintai suatu kegiatan, tentulah seseorang itu akan selalu berusaha untuk sesering mungkin melakukan suatu kegiatan tersebut. Lalu bagaimana jika suatu kegiatan tersebut adalah belajar? Tentu orang yang mencintai belajar akan selalu mencoba belajar dengan mengambil pelajaran dari apa saja yang ia temui, di manapun dan kapanpun ia berada karena satu hal yang perlu kita garisbawahi, belajar tidaklah selalu berkaitan dengan hal akademis semata. Karena kita tinggal di tengah-tengah alam raya, orang yang mencintai belajar sedikit banyak pasti pernah belajar dari alam di samping belajar materi akademis di instansi belajar formalnya. Lalu bagaimanakah contoh belajar dari alam itu?
M. Ais Luthfi dalam tulisannya yang berjudul “Belajar dari Alam” mencotohkan beberapa hal berikut. Lautan biru yang terhampar luas, kadang-kadang kapal atau perahu layar melintas di atasnya, mengingatkan kita pada seorang Archimedes. Menurutnya, air itu mempunyai dorongan sehingga jika ada materi dimasukkan ke dalamnya maka beratnya akan berkurang. Bisa dibayangkan jika sebaliknya, yakni jika air mempunyai tarikan, maka sulit bagi kita untuk menggunakan fasilitas transportasi laut, karena setiap berlayar transportasi tersebut akan tenggelam dibawa tarikan air laut tersebut.
Ketika melihat bukit-bukit karang yang diserang bertubi-tubi oleh hantaman deburan ombak namun tetap kokoh berdiri, orang yang mencintai belajar akan segera dapat belajar dan mampu mengambil pelajaran bahwa  fenomena tersebut ternyata menasihati kita untuk tetap tegar dan sabar dalam menghadapi segala masalah dan cobaan.
Dari pohon pisang, kita dapat mengambil sebuah pelajaran, pantang menyerah sebelum menang. Jika diperhatikan, pohon pisang yang belum pernah berbuah kemudian ditebang, dalam beberapa waktu dia akan tumbuh lagi. Jika pohon pisang tersebut ditebang dan ditebang lagi, maka lagi-lagi dia akan tumbuh lagi. Tapi coba perhatikan pohon pisang yang telah berbuah dan siap panen kemudian ditebang, yang terjadi adalah dia akan membusuk dengan warna kecoklatan dan melembek menyerupai tanah dan tentu saja dia tidak akan tumbuh lagi. Dari pohon pisang kita dapat belajar sifat keteguhan hati, rasa optimis tinggi dan pantang menyerah sebelum menghasilkan sesuatu selama masa hidupnya.
Dan fenomena yang tersebut di atas hanyalah dua contoh dari entah berapa ribu fenomena alam yang dapat kita ambil pelajarannya. Dan fenomena tersebut mungkin hanyalah dua dari milyaran hal yang dapat dipelajari oleh seseorang untuk dapat dikatakan salah satu orang yang mencintai kegiatan belajar.

=========================================================
---------------------  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ -------------------
=========================================================
R-Complex, si Perlu Dihindari yang Teramat Penting
Putrie Kusuma Wardhani, 1106002583

Judul               : “Tentang Otak”
Pengarang       : Ikranagara
Data Publikasi      : Tentang Otak, Ikranagara, 2000
                          http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/message/6820

Seperti yang telah diketahui, biasanya yang berperan dalam diri manusia adalah otak reptil atau R-Complex dengan refleks-refleks pertahanan diri maupun tindakan lainnya tanpa pikir panjang. Hal ini pun seringkali justru akan membahayakan dan menimbulkan kerugian baik untuk diri sendiri maupun lingkungan. Padahal bila neocortexlah dengan segala kecanggihannya dalam berpikir yang mengambil peran dalam keadaan tersebut, mungkin hal yang terjadi akan lebih baik. Maka mungkin pernah terbesit di benak kita, bukankah ilmu kedokteran sekarang sudah semakin canggih? Mengapa tidak dilakukan operasi otak guna menghilangkan R-Complex saja? Dengan demikian bukankah neocortexlah yang akan selalu berperan? Ikranagara dalam artikelnya yang berjudul “Tentang Otak” mampu membantu saya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Ternyata eksperimen penghilangan R-Complex tersebut pernah dilakukan dengan tujuan dapat diterapkan pada penjahat kambuhan nantinya. Bahan eksperimennya tentu bukanlah manusia melainkan seekor monyet yang amat liar, galak sekali, dan agresif. Namun setelah R-Complex dari otaknya dibuang, yang terjadi adalah monyet tadi menjadi amat jinak dan terlampau pasif. Parahnya, dia juga kehilangan kemampuan rutinnya seperti jika lapar ia  harus makan atau jika haus ia harus minum. Bahkan ketika disodorkan makanan dan minuman ke depannya pun dia tidak melakukannya. Selain itu untuk memasukkan makanan pun bisa salah, bukannya dimasukkan ke dalam mulut malah ke mata atau bagian tubuh lainnya, atau dibuang, padahal jelas dia sangat lapar. Demikian juga, jika sebelumnya dia tahu bahwa jalan untuk keluar adalah pintu kandang, tanpa R-Complex berkali-kali ia menabrak dinding kandang. Akhirnya monyet itu mati. Rencana untuk menerapkannya pada otak penjahat kambuhan pun dibatalkan. Kabarnya, setelah itu yang diselidiki adalah gennya dengan mencoba memetakan gen khusus R-Complex agar yang dapat dihilangkan nantinya hanya sifat agresifnya saja, namun tidak untuk kemampuan pertahanan diri dan hal penting lainnya.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kita tidak dapan secara sembarangan menghilangkan R-Complex dari otak mengingat pentingnya salah satu bagian otak ini untuk kelangsungan hidup manusia walaupun terkadang pemikiran dan tindakanyang kurang baik dan tepat kerapkali ditimbulkan olehnya. Atau bisa pula jika kita ingin menunggu penelitian lebih lanjut yang lebih sempurna. Namun penelitian tersebut tentu akan memerlukan dana dan waktu yang amat lama. Maka menurut saya, hal yang perlu kita lakukan tetaplah sebisa mungkin mengendalikan reaksi R-Complex dan member kesempatan bagi neocortex untuk berpikir dan menganalisis sesuatu dengan lebih cermat yang dapat dilakukan dengan membiasakan diri berlatih berpikir kritis dan menganalisis sesuatu serta menenangkan diri dengan menghirup napas panjang beberapa kali atau minum air putih.
=========================================================
---------------------  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ --------------------
=========================================================

Amuk Massa dan Ketidakseimbangan Pemenuhan Hak dan Kewajiban
Putrie Kusuma Wardhani, 1106002583

Judul               : 1. Amuk Massa dalam Konteks Keadilan
                         2. “Mengaji Amuk Massa”
Pengarang       : 1. Annisa Cantika
                         2. Toto Suparto
Data Publikasi      : Amuk Massa dalam Konteks Keadilan, Annisa Cantika, 2010
                       http://bataviase.co.id/node/243120 diakses 23 November 2011

Sebagai warga Indonesia, kita sudah tiak asing lagi dengan amuk massa. Kita tentu sering melihatnya di televisi, pernah melihatnya secara langsung, atau bahkan mungkin pernah terlibat langsung dalam tindakan tercela tersebut. Tiap minggunya koran pun tak pernah absen memberitakan amuk massa di berbagai daerah. Bahkan kata amuck pun merupakan serapan dari bahasa Indonesia yaitu amuk. Padahal biasanya kata-kata bahasa Indonesialah yang merupakan serapan dari bahasa lain. Dari hal tersebut dapat dikira-kira bahwa kehidupan berbangsa, bernegara, maupun bermasyarakat di Indonesia tampaknya memang sudah sering diwarnai dengan amuk massa sejak zaman dahulu kala. Namun apakah sesungguhnya penyebab dari amuk massa tersebut? Annisa Cantika mengulas hal tersebut melalui artikelnya yang berjudul “Amuk Massa dalam Konteks Keadilan’’.
Keadilan adalah keadaan seimbang antara hak dan kewajiban. Sedangkan amuk massa pada mulanya merupakan aksi penyampaian pendapat oleh sekelompok orang akibat ketidakadilan yang mereka rasakan. Namun dalam penyampaian pendapat ini, emosilah yang memegang peranan terbesar. Emosi mengontrol pikiran mereka untuk membenarkan semua yang salah. Emosi dapat dianalogikan dengan ombak. Ketika ombak mencapai titik puncaknya, ombak akan menghempas dan menyapu semua yang dilaluinya. Begitu pula dengan emosi, suatu saat akan mencapai titik yang sulit dikendalikan dan mampu mengalahkan akal pikiran yang jernih serta menutup hati nurani. Selain itu, ada pula faktor depresi. Rakyat lelah selalu tenggelam dalam kekarut-marutandan ketidakadilan kehidupan negara ini. Sebagai contoh, saat rakyat kecil bersusah payah demi sesuap nasi, uang rakyat digerogoti oleh para koruptor tanpa ada sanksi setimpal dari aparat hukum. Atau terjadi mafia hukum yang membuat sang koruptor bebas begitu saja. Perilaku aparat di berbagai lembaga, baik lembaga pemerintahan, wakil rakyat, serta lembaga publik lain pun membuat kondisi kejiwaan rakyat terganggu.
Dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketidakseimbangan pemenuhan hak dan kewajiban merupakan hal yang menjadi penyebab utama dari amuk massa mengingat amuk massa disebabkan oleh emosi yang meluap dan depresi sedangkan depresi dikarenakan oleh ketidakadilan dan ketidakadilan terjadi akibat ketidakseimbangan antara pemenuhan hak dan kewajiban.

=========================================================
---------------------  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ --------------------
=========================================================

Berkenalan dengan Logika
Putrie Kusuma Wardhani, 1106002583

Judul                     : “ Pengantar Logika”
Pengarang             : Bagus Takwin
Data Publikasi      :
-         Judul buku      : Program Pengemangan Kepribadian Terintegrasi A
-         Pengarang        : Bagus Takwim dkk.
-         Kota terbit       : Jakarta
-         Penerbit          : Badan Penerbit FKUI
-         Tebal buku      : 173 halaman

          Mungkin sudah sering kita mendengar kata logika. Namun ketika suatu ketika adik kita yang entah karena menbaca sebuah buku atau sekedar bingung harus membicarakan apa tiba-tiba  bertanya pada kita apa itu logika beserta penjelasannya, dapatkah kita dapat menjawabnya dengan mudah, tepat, dan lancar tanpa terbata-bata? Menurut KBBI, logika diartikan sebagai pengetahuan tentang kaidah berpikir dan jalan pikiran yang masuk akal. Namun tahukah kita jika logika juga dikenal bahkan bukan hanya sebagai sebuah cabang ilmu pula? Bagus Takwim dalam tulisannya “Pengantar Logika” akan membantu kita untuk menjawabnya.
          Logika dapat pula diatian sebagai kajian mengenai prinsip, hokum, metode, dan cara berpikir yang benar untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Dan ternyata selain dikenal sebagai cabang filsafat, logika juga dikenal sebagai cabang matematika. Dalam matematika, logika mengkaji mengenai penyimpulan dan pembuatan pernyataan yang benar serta dikaji untuk menyusun bahasa matematika yang formal, baku, dan jernih maknanya sedangkan sebagai filsafat, logika merupakan kajian tentang berpikir atau penalaran yang benar. Penalaran ialah proses penarikan kesimpulan berdasarkan alas an, bukti, data, informasi, atau penjelasan hubungan antara beberapa hal yang relevan. Pernyataan adalah kalimat yang digunakan untuk mengkalaim atau menyampaikan sesuatu yang bisa benar atau salah. Dan kebenaran dapat dicapai melalui penyimpulan, baik itu penyimpulan langsung ataupun tidak langsung. Dalam penyimpulan dapat terjadi dua kesalahan, kesalahan material (kesalahan putusan sebagai pertimbangan yang seharusnya memberikan fakta atau kebenaran) dan kesalahan formal yang dikarenakan tidak konsistennya urutan. Proposisi, makna yang diungkapkan melalui pernyataan, yang dijadikan dasar kesimpulan disebut premis dan anteseden.
          Selain itu, perlu pula kita mengetahui tentang argumen deduktif, proses perolehankesimpulan yang terjamin validitasnya jika bukti yang tersedia benar dan penalaran yang digunakan untuk menghasilkan kesimpulan tepat dan argumen induktif atau induksi, hipotesis yang mengandung risiko dan ketidakpastian. Salah satu bentuk argumen deduktif ialah silogisme yang terdiri dari premis mayor, premis minor, dan kesimpulan dengan delapan ketentuan: hanya mengandung tiga term, term mayor atau minor tidak boleh menjadi universal, tidak ada term tengah dalam kesimpulan, term tengah harus digunakan dalam proposisi universal dalam premis-premis, jika kedua premis positif maka kesimpulan juga positif, jika salah satu premis negatif maka kesimpulan negatif dan jika salah satu pertikular kesimpulan harus pertikular, tidak boleh jika kedua premisnya negatif atau partikular.
          Ada pula sesat pikir yang menurut logika tradisional adalah kekeliruan dalam penarikan kesimpulan dengan langkah-langkah yang tidak sah akibat dilanggarnya kaidah-kaidah logika. Dan juga kesalahan dalam penalaran induktif yang terdiri dari kesalahan generalisasi, penggunaan bukti, statiktikal, kausal, analogi, dan menilai penalaran induktif dengan standar deduktif.
          Ternyata pembelajaran mengenai logika tidaklah mudah dan sederhana. Banyak sekali istilah-istilah tercakup di dalamnya. Namun bagaimana pun, sesulit apa pun suatu hal, jika kita mau mempelajarinya dengan sungguh-sungguh pasti kita akan dapat memahaminya, atau setidaknya lebih paham dari sebelumnya.


=========================================================
---------------------  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ --------------------
=========================================================

Dengan jurnal-jurnal di atas, akhirnya dapat diperoleh nilai 90,67 J

=========================================================
---------------------  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ --------------------
=========================================================

welcome to University of Indonesia, a real KAMPUS PERJUANGAN
and
WELCOME to PSYCHOLOGY UI WORLD, Pejuang! XD

=========================================================
---------------------  ^o^  SAY NO to PLAGIARISM! ^o^ --------------------
=========================================================